Setelah sempat ramai menjadi bahan pembicaraan pasca publikasi mobil baru Esemka oleh walikota solo Joko Widodo. Kini gaung mobnas sepertinya mulai meredup dan hanya sayup-sayup terdengar. Mobnas Esemka yang sebelumnya diakui dan dibanggakan sebagai karya anak bangsa sepenuhnya, kini mulai banyak mendapat tanggapan skeptis dan “cibiran”.

Banyak yang menganggap Esemka bukanlah sebuah “karya”, namun hanya sekedar “rakitan” anak-anak SMK. Desain mobil secara keseluruhan banyak mengadopsi (jika tidak ingin dikatakan “menduplikat”) desain mobil-mobil SUV produk Jepang maupun Eropa.
Mesin yang digunakan pun banyak diragukan sebagai karya anak bangsa dan banyak yang percaya mesin yang digunakan adalah mesin-mesin impor produk china.
Harga mobil Esemka yang semula dianggap murah untuk kendaraan sekelas SUV berkapasitas 1.500 cc yang hanya dibandrol pada kisaran Rp. 90 jutaan, ternyata diprediksi akan membengkak menjadi Rp. 120 jutaan, bahkan lebih jika sudah diproduksi secara massal.
Selain itu mobil ini pun dikatakan belum layak untuk digunakan di jalan umum karena belum lulus tes uji kelayakan dari pihak terkait.
Lain halnya dengan Esemka, mobnas Tawon tampaknya sudah sedikit lebih maju, mobil mungil asal banten ini sudah masuk proses produksi massal. Mobil dengan mesin berkapasitas 650 cc ini memang sudah dinyatakan layak jalan dari pihak terkait.
Namun demikian, tanggapan skeptis pada mobil ini tetap tidak kalah menggema. Hal mendasar yang paling sering mendapat kritikan dari masyarakat adalah mengenai desainnya yang dianggap norak dan kurang kompetitif. Serupa dengan tawon, Gea, Arina dan Komodo pun dianggap masih memiliki kekurangan yang sama.
Namun, setidaknya saat ini bibit-bibit mobnas yang semoga nantinya dapat berkembang jauh lebih baik sudah terlihat dan menggeliat. Sepertinya diperlukan usaha dan dukungan yang nyata dari semua pihak untuk terus dapat maju dan mengembangkan mobnas yang dapat dibanggakan. Dan diperlukan waktu yang cukup lama sehingga masyarakat dapat berjalan dengan bangga menggunakan mobil nasional dijalan-jalan umum di Indonesia.

0 comments:

Post a Comment